Kalender


Kamis, 31 Januari 2008

Perkembangan Jaringan Internet Perumahan

Perkembangan Jaringan Internet Perumahan

Dari Kesulitan Infrastruktur sampai Masalah Peraturan


TULISAN tentang bagaimana membangun jaringan internet pernah dimuat di harian KOMPAS (RT-RW Net-27/1/2001) dan prakarsa ini sudah banyak dijalankan di perumahan atau di kompleks pertokoan sejak tahun 1999. Pengembangan jaringan internet perumahan banyak sekali kendala yang harus dilewati dan masalahnya dan terkadang sulit untuk diatasi.


Ada lima tahapan dalam perkembangan jaringan ini. Fase pertama menyangkut masalah infrastruktur. Dari awal ide membangun jaringan murah untuk mengakses internet, kesulitan yang dihadapi adalah memanfaatkan infrastruktur yang tersedia. Karena, perusahaan telekomunikasi Indonesia yang terbesar sepertinya tidak siap untuk menerima misi mencerdaskan bangsa ini melalui jaringan internet. Mereka masih sibuk berkutat dengan teknologi suara dan sama sekali belum memikirkan pembangunan dan pengembangan internet, ditambah lagi tindakannya yang selalu melihat kalkulator untuk menghitung keuntungan.


Kalau saja yang sedang memegang monopoli dapat membuat sebuah produk yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, kita tidak akan tertinggal oleh Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Karena semua upaya yang sedang dilakukan saat ini semuanya hanya berbentuk tambal-sulam tanpa target yang jelas, malah di posisi terdepan, terkesan memaksakan keinginan atasannya


Fase kedua mencakup persoalan sosialisasi yang termasuk sulit dan merupakan masa paling menegangkan dalam memperkenalkan konsep "Internet Kerakyatan" ke masyarakat yang sedang bingung mau jalan ke mana. Sosialisasi ini menjadi sulit karena punya dua latar belakang perpaduan yang merupakan masalah bangsa Indonesia, yaitu daya beli dan pendidikan. Daya beli yang rendah menyebabkan bangsa Indonesia menjadi "takut" untuk menggunakan komputer, dan malah belakangan ini menjadi sampah dunia dengan mengimpor komputer bekas.


Di sisi pendidikan, sepertinya sudah tidak perlu dibahas lagi, bagaimana amburadulnya pendidikan dasar sampai ke pendidikan tinggi, walaupun perbaikan terus diupayakan oleh departemen terkait.Fase ketiga menyangkut masalah manajemen. Fase ini yang sedang dialami oleh sebagian besar pengembang jaringan internet perumahan, mereka kebingungan menerima cercaan dari pelanggannya yang sebagian besar mengharapkan sambungan broadband yang sesungguhnya, sementara biaya operasional belum mampu membuat bisnis ini jalan. Membeli bandwidth seharga 5.000 dollar AS per bulan, untuk kemudian diecer dengan nilai sekitar Rp 300.000 membutuhkan jumlah pelanggan banyak yang sangat sulit didapat dan diambil komitmennya.


Manajemen teknis yang tidak baik menyebabkan pelayanan yang tidak sesuai dengan harapan pelanggan, karena semua pengembang jaringan internet baru dalam taraf belajar, dan pola pemakaian di setiap tempat berbeda satu sama lain sehingga sangat sulit untuk ditarik benang merahnya.Fase keempat menyangkut masalah "content." Fase ketiga dan keempat sebetulnya agak sulit dipisahkan, karena saat ini pelanggan internet juga mengalami kesulitan mencari muatan lokal yang dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia di mana mereka kekurangan tenaga ahli jaringan internet, kekurangan resource di internet dan terbentur pada masalah-masalah nonteknis yang bukan berkaitan dengan sisi teknisnya.


Kasus meledaknya online game yang gratis, tetapi langsung megap-megap pada saat diberlakukan pembayaran langganan merupakan sisi gelap dari bisnis ini. Sehingga hal-hal lain yang di luar dugaan akan dihadapi oleh para investornya.


Dan fase kelima, menyangkut masalah peraturan. Sampai saat ini pemerintah belum membuat aturan yang jelas tentang jaringan ini, dan memang itu yang sering kali terjadi pada Pemerintah Indonesia. Pada saat masih kecil dibiarkan berkembang, kalau sudah besar baru dibuat aturan-aturan yang kemungkinan akan membuat sulit semua pihak, lihat contohnya peraturan tentang VoIP, Wireless LAN 2,4GHz, dan lainnya.


Saat ini, untuk membangun jaringan internet perumahan hanya dibutuhkan kesepakatan bersama antarwarga dan melapor ke RT atau RW setempat, terutama untuk meminta izin proses pemasangan kabel dan perangkat akses internet di tempat umum.


LIMA fase yang dijabarkan ini belum semuanya dilalui, masih panjang perjalanan pembangunan dan perkembangan jaringan ini, seirama dengan makin gencarnya PT Telkom melakukan terobosan teknologi ADSL yang hanya cocok untuk kalangan perusahaan atau SOHO (Small Office Home Office). Karena biar bagaimanapun usaha yang dilakukan, ujung dari semua persoalan adalah jumlah pengguna internet yang masih terlalu kecil, sehingga skala ekonominya belum tercapai.


Fase-fase yang belum dijalani masih merupakan misteri, karena kita semua berharap terjadi satu kejutan atau terobosan dari apa yang sudah dilakukan saat ini. Tetapi dari seluruh fase, baik yang sudah lalu ataupun yang akan dijalankan, fase perbanyakan isi di jaringan internet merupakan hal yang utama dan harus dikedepankan. Semakin beragamnya isi berbasis kultur Indonesia di internet, maka diharapkan akan terjadi "serbuan" pengguna internet, sehingga akhirnya akan membuat harga menjadi murah.Ibu-ibu rumah tangga yang tadinya tidak pernah menggunakan internet, mendadak setiap hari menatap monitor komputer, karena mereka sedang tergila-gila dengan bisnis MLM yang salah satu perangkat utamanya adalah akses internet. Anak-anak tergila-gila dengan situs Friendster yang menjalan pertemanan melalui internet, serta aplikasi massal lain yang belum dijalankan, yaitu memasyarakatkan teknologi VoIP yang akan mengurangi biaya komunikasi yang setiap tahun mengalami kenaikan.


Voice over IP, yaitu teknologi yang menumpangkan sinyal suara dari pesawat telepon biasa ke jaringan internet, yang bekerja di sistem digital sehingga pada saat yang bersamaan pelanggan yang akses internet dapat menelepon ke setiap pelanggan lainnya, atau dengan menggunakan jasa operator VoIP resmi berdasarkan aturan pemerintah, kita dapat menelepon ke jaringan telepon biasa (Public Switching Telephone Network/PSTN).


Kota Michigan di Amerika, sudah membangun jaringan yang mirip jaringan perumahan dengan menggunakan teknologi Wireless LAN (W-LAN) dan menyediakan fasilitas IP Phone Wireless dengan hanya membayar 29 dollar AS setiap bulannya, untuk menelepon ke mana saja di Amerika. Selain itu, kantor polisi dan kantor pemerintahan semuanya disambung ke jaringan W-LAN tersebut, sehingga segala sesuatu yang berhubungan dengan roda pemerintahan dan keperluan orang banyak, dapat dilayani dengan sebaik-baiknya.


Kondisi di Indonesia sebetulnya memungkinkan untuk membangun jaringan ini bersamaan dengan program e-government di seluruh pemda, karena biasanya kantor pemerintahan tersebar di seluruh pelosok kota dan tinggal menyalurkan ke perumahan terdekat. Sayangnya, pembangunan infrastruktur kebanyakan hanya berbasis pada proyek menghabiskan uang pemerintah, karena begitu selesai, tiga bulan kemudian semua perangkat sudah tidak dapat beroperasi lagi.


Perbanyak Internet di indonesia dan memperbaiki mutu pendidikan Indonesia merupakan kunci keberhasilan pengembangan jaringan internet di Tanah Air ini. Jika keduanya diabaikan, perkembangan internet dan kemajuan teknologi informasi di Indonesia akan mengalami kemunduran yang berarti dan semakin tertinggal dengan negara tetangga yang nota bene-nya "murid" Indonesia. Apakah kita rela untuk menyaksikan anak cucu kita kelak menjadi tenaga kasar di percaturan dunia?



Tidak ada komentar:

Komentarnya dunk...